Diriau.com -- Tiada terkira berapa kali bangsa ini, harus membereskan sedikit puing sejarah yang mulai tak rapih. Tampak ada kekacauan di dalam negeri ini berhadapan dengan namanya pemilu benalu. Sejarah Indonesia ini memiliki tindak tanduk yang tak sedikit memperbincangkan kehangatan dalam bernegara, dalam kehidupan sosial. Indonesia yang di kenal sangat berbudaya harus terjerumus dalam pemilu yang mulai tak tak tahu malu. Apakah kemaluan pemilu sudah tersingkap sehingga tampak begitu indah di hadapan mata, ada yang mati wahai pemilu !


Menyaksikan kematian dengan dalih sederhana mereka adalah wajah pahlawan pemilu kali ini, itu mereka mati, mati bapak, mati ibu, ada yang mereka tinggalkan yaitu keluarga. Bukan itu saja, yang menjadi pengawal negara ini juga ada yang mati.
Memang benalu hidup nya Cuma 5 tahun sekali, menghadirkan pemimpin – pemimpin sakit jiwa, yang selalu bersedia bersemayam di Rumah Sakit Jiwa tanpa ada kata paksaan, namun di paksa keluarga karena ini orang tak bisa di selamatkan dengan kata pemilu hanya saja ini bisa di selamatkan dengan obat berdosis tinggi agar mereka tenang, biar hatinya tidak dapat memahami pemilu.


Dengan biaya yang amat tinggi, beberapa manusia Indonesia yang merasa bahwa negeri ini harus di selamatkan dari kebodohan, cengkaraman asing, hutang negara, hidup miskin. Semua omong kosong ini di hidangkan begitu matang, di makan dengan lahap. Korban nya tetap manusia Indonesia, bukan konflik batin saja, berkeluarga hingga bernegara. Engkau pemilu minggat lah dari Indonesia.


Dalam sila keempat itu sangat jelas apa yang kita pakai yaitu keterwakilan, bukan dengan one man one vote. Memang setan apa yang merasuki negara ini, sehingga orang yang merasa belum berkompeten pun mengikuti pemilu. Kalah itu sudah pasti, menang itu di awang – awang seperti itulah menggambarkan suaka alam pemilu.

Dengan parpol yang begitu bangga menghadirkan manusia – manusia tanpa berwajah ini. Ketololan apa yang sehingga kita berani mengatakan ini adalah cara yang pertama menghadirkan negara yang adil, makmur, dan sejahtera.


Opini ini tidak akan saya buat apabila orang berbahagia mengikuti pemilu ini, opini di buat ketika kegelisahan penulis ini memang tidak bisa di diamkan lagi. Ketika mendengarkan berita ada yang mati, tergerak lah hati agar memborbardir pemilu benalu. Jangan salah biaya negara di habiskan dengan hajatan yang sungguh luar biasa ini di habiskan dalam beberapa hari dengan dalih dan alibi Indonesia dengan demokrasi terbukan akan matang dalam bernegara.


Wajah pemilu kali ini memang tercoreng dengan adanya pertikaian antara satu kelompok dan dengan kelompok lainnya, orang yang mati, error nya data, serangan hacker, politik identitas dan media. Ada yang mengatakan demokrasi kita ini masih berbenah, belum dewasa, namun rujukannya Amerika, yang dulu menerapkan demokrasi terbuka (one man one vote).


17 April 2019 yang lalu kenangan pahit candrimuka Indonesia. Akibat ketidaksengajaan pemilu serentak ini, manusia Indonesia tidak seharusnya menanggapi dengan santai pemilu. Seharusnya ada sebab akibat mengapa pemilu serentak ini dicanangkan ?


Men-Genaralisir keadaan ini, tampaknya akan di anggap tidak baik, namun kenyataan ada yang mati. Apakah Pemilu kali ini memang mensediakan tempat agar orang mati. Atau menyediakan manusia – manusia Indonesia (ikut konstestasi pemilu) di rumah sakit jiwa. Siapa pihak yang di rugikan jika tidak manusia Indonesia.
Saya akan mengatakan kepada para yang merasa sangat senang dengan keadaan ini (pemenang konstestasi Pemilu) :


1. Pemilu serentak tiadakan.
2. Kembalikan substansial Sila keempat Pancasila.
3. Mengkontrol anggaran pemilu yang tak masuk akal ini.
4. Awasi setiap gerak – gerik pemerintah, jangan biarkan ugal - ugalan menghabiskan duit negara.
Takdir Indonesia tidak hanya di tentukan dalam pemilu, takdir Indonesia itu adalah ketika amanat pembukaan UUD 1945 di jalankan. Pemimpin yang mengerti dan paham akan situasi negara ini akan dengan ikhlas mengerjakan amanat tersebut. Malu adalah kata yang pas melihat kondisi pemilu ini. Semangat opitimisme mungkin di lain pihak akan terasa berat. Pemilu kali ini harus menjadi ibrah bagi manusia Indonesia, agar kejadian ini harus tak terulang di kemudian hari. Ingat kita masih INDONESIA.


Penulis ;
FADLIL AULIA RAHMAN R.G
(KADER HMI KOMISARIAT FAI UIR)

SHARE
Previous articleDiduga Kegiatan Program PKT Salahi Aturan
Next articleUsai Musprov Riau Ke - X, PBVSI Rohil Berkomitmen Majukan Olahraga Volly

COMMENTS