Diriau.com -- Kehidupan kampus itu tidak ubah nya kehidupan manusia yang mencari jati diri. Jati diri yang di cari mereka pun ada rasa keterpaksaan, rasa keikhlasan, dan juga ada rasa penasaran. Keterpaksaan terkadang dari pihak keluarga, kamu harus jadi ini kamu harus jadi itu. Keikhlasan ini muncul ketika ekpektasi sesuai realita, contohnya ia pilih jurusan kedokteran malah yang dapat pendidikan. Dan saya cukup salut kepada mahasiswa yang memilki sense (rasa) penasaran. Mahasiswa yang penasaran ini biasanya tidak akan memperdulikan jurusannya darimana yang penting tujuan dirinya satu menjadi personal yang bermanfaat. Ini hanya pendapat saya. Mungkin saja berbeda itu wajar kawan.

Terkadang sulit melihat arah mahasiswa saat ini, ada yang mengatakan mahasiswa sekarang apatis, tak beradab, tak memilki intelektual,kurangnya jiwa simpati, kurangnya rasa empati, bla –bla. Dan anehnya yang mengatakan itu juga mahasiswa kan aneh, apalagi ia berstatus pejabat kampus. Pertanyaannya kepada para pejabat kampus, mengapa mahasiswa apatis ? kan antum yang menjadi pejabat nya bukan kami.

Saya pernah mengatakan “yang salah itu bukan mahasiswa yang tak ikut berorganisasi, yang salah itu adalah orang yang menjadi pengurus organisasi.” Kesalahan ini saya rasa memang benar adanya, dan tidak di buat – buat. Mereka yang telah di amanahkan harus bersusah payah dan mencurahkan semua potensi yang berada di dalam dirinya agar orang bisa tertarik dan berminat, ini lho produksi – produksi organisasi. Yang dulunya mahasiswa kupu – kupu menjadi mahasiswa ideal.

Pembentukan mahasiswa banyak berada di organisasi. Pembentukan seperti apa kian ! pembentukan jati diri atau pembentukan paras yang dulu nya followersnya cuma 100 menjadi followers  2000 itukah yang mau di cari. Silakan, karena tak ada orang membatasi ruang gerak seseorang. Berorganisasi bukanlah menyempitkan ruang gerak seseorang, namun organisasi memberikan ruang gerak nya luwes dan fleksibel.

Jika memang benar organisasi kampus itu pajangan, maka yang tidak di untungkan pertama kali itu tidak lain dan tidak bukan adalah mahasiswa. Berbenah diri menjadi hal prioritas utama dari seorang mahasiswa. Beban yang berat di pikul mahasiswa itu menjadi bukti keadaan eksistensi mahasiswa di tengah masyarakat.

Sejauh ini konteks organisasi mahasiswa hanya menjadi kontestasi hura – hura dalam pemakaian anggaran kampus. Asas kemanfaatan ini pun tidak di rasa kan berbagai kalangan, apalagi yang sudah terimplikasi kepada ranah keapatisan. Seharusnya dengan adanya organisasi – organisasi mahasiswa baik itu tingkatan jurusan dan fakultas menyediakan berbagai tempat kepada mahasiswa untuk mengekplorasi minat dan bakatnya. Organisasi kampus notabene yang di isi para intelek mahasiswa juga menyediakan ruang tempat yang sangat luas kepada mahasiswa untuk belajar berorganisasi.

Akhirnya dalam opini saya sampaikan organisasi kampus itu bukan pajangan bukanlah sebuah retorika semata, ini semua murni adanya di karenakan organisasi kampus sudah banyak menyita kinerja event organizer. Sejatinya substansi mahasiswa itu sudah jelas agent of change, social of control, dan iron stock. Ketiga nilai inilah yang harus di tekankan kepada mahasiswa – mahasiswa terutama kepada para pejabat teras kampus.

 

Penulis :

Fadlil Aulia Rahman Raja Guk – Guk

Mahasiswa Fakultas Agama Islam - UIR

SHARE
Previous articleTak Penuhi Kewajiban Pasca Bercerai, ASN ini di Laporkan ke Polisi
Next articleUsai Musprov Riau Ke - X, PBVSI Rohil Berkomitmen Majukan Olahraga Volly

COMMENTS