DIRIAU.com -- Sebuah sejarah telah menukilkan bahwa ada sebuah keniscayaan peradaban yang di bangun kelompok fasis Italia, nazi Jerman, dan militarian Jepang. Bicara fasis Italia berarti bicara sebuah history bagaimana Benito Mussoilini ingin menjadikan Italia seperti Roman Empire. Lalu, Nazi Jerman dengan gaya charismanya Adolf Hitler dengan sebutan “Der F?hrer” ingin mengulang kembali keperkasaan suku arya atas bangsa lain. Namun lain halnya dengan militarian Jepang yang mengangkat 3 A “Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asing, dan Nippon Asia” dan dengan jendral terkenal Hideki Tojo. 

Ketiga kekuatan ini menghantarkan sebuah perang, perang yang dikenal dengan Peran Dunia Ke – II. Penyebab pasti dari ini banyak di muat dalam buku – buku sejarah. Dan berdampak terhadap negara Indonesia yang pada saat itu menerima kehadiran Jepang sebagai kawan dalam mengalahkan penjajahan. Hanya saja, Indonesia yang saat itu masih dalam berbentuk kerajaan/ kesultanan bukan hanya menyerah tapi tetap mengarahkan seluruh kekuatan untuk mengusir para penjajah dan termasuk Jepang.

Menarik nya kita akan tertarik kepada penyebab perang dunia ke II, jika melihat pembuka opini saya ini. Sebenarnya hal menarik tersebut bukan lah asbab dan musabab perang dunia ke II tapi ada satu sifat. Sifat itu yang merongrong nilai – nilai humanis. Sifat dan sikap itu bernama Chauvinisme. 

Adapun pengertian Chauvinisme merupakan ajaran dan paham tentang fanatisme seseorang terhadap tanah air yang berlebihan sehingga merendehkan kualitas negara lain atau menganggap bangsa lain sebagai bangsa yang tidak bagus (dalam Guru PPKN.COM tentang Pengertian Chauvinisme dan Contohnya). 

Sederhanya, manusia memang memiliki sifat kecenderungan untuk diakui, maka timbullah sifat ke – akuan. Bukti sederhana dalam sebuah diskusi kecil yang saya jalani. Ini tampak bahwa ada etika salah dalam menyampaikan pandangan. 

Sehingga ini menimbulkan sifat ego. Dan sejatinya ini tidak dilakukan oleh kalangan mahasiswa yang saat ini sedang di rundung berbagai permasalahan kemanusiaan dan ketidakadilan pemerintahan juga bukan dari satu arah namun dari berbagai arah.

Dialektika yang di bangun mahasiswa sejatinya bukanlah dialektika yang serampangan. Dialektika yang di bangun berupa material kecerdasan, yang barang tentu di perjelas dengan tuntutan akademik. Timbul pertanyaan darimana bisa muncul chauvinisme di kalangan mahasiswa. 

Satu yang pasti dari pengajaran yang salah. Mahasiswa harus terhindar dari pengajaran dan pendidikan yang salah. Jika menilik sekilas memang ada doktrin yang salah disini, doktrin inilah yang akan menimbulkan dogma. Dogma inilah yang bekerja dan terus menerus di gaungkan. 

Bahwa akulah yang bisa, akulah yang hebat, yang lain tak bisa, dan yang lain tak hebat.

Chauvinisme inilah jalan terakhir mahasiswa membanggakan dirinya, jalan terakhir ini muncul karena ketidaktahuan dan kepongahan. 

Saya adalah mahasiswa, saya anti kritik, saya tidak salah, dan saya yang benar. Ini adalah beberapa kata yang tak harus muncul dari mulut Mahasiswa, jika ini muncul, Chauvinisme telah bersemayam di dada. Jangan sampai chauvinisme berada di hati mahasiswa, pikiran mahasiswa, dan setahu saya itu adalah dialektika Mahasiswa Putus Asa !

 

Oleh : FADLIL AULIA RAHMAN R.G (KADER HMI KOMISARIAT FAI UIR)

SHARE
Previous articleSolidaritas Pers Riau Terus Berjuang Sampai Pelaku Kriminalisasi Terungkap .
Next articleSPI desak Polda Riau Transfaran Dalam Penegakan Hukum Terkait Bupati Bengkalis Yang Diduga Kuat Ikut Terlibat

COMMENTS