Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali,  I Nyoman Nuarta menyampaikan bahwa warga Negara Rusia yang menjadi tour guide ilegal di Pulau Bali sudah marak dan membuat para pelaku usaha wisata geram.

"Sebenarnya sudah dari dulu ada WNA Rusia yang melakukan kegiatan menjadi pemandu ilegal di Bali. Cuman dari tahun yang lalu sangat meningkat WNA Rusia jadi guide di Bali," kata Nuarta saat dikonfirmasi via telepon, Selasa (2/7/2019) seperti dikutip dari merdeka.com.

Menurut Nuarta, dengan adanya warga Rusia yang menjadi tour guide ilegal di Bali, tentu sangat mengganggu pariwisata karena akan merusak harga tour pasar Rusia.

"Mereka tidak kena pajak, mengambil lahan pekerjaan anggota kami di lapangan dan membawa citra buruk buat pariwisata karena informasi yang di berikan sama wisatawan tidak pass," imbuhnya.

Nuarta juga menjelaskan, pihak hanya sebatas melaporkan akan maraknya warga Rusia yang menjadi tour guide ilegal di Bali. Namun, untuk kewenangan untuk hal tersebut adalah para stakeholder terkait.

"Tetapi, stakeholder yang punya kewenangan itu tidak pernah melakukan hal-hal yang sifatnya kongkrit, eksekusi ke lapangan. Terkait dengan laporan yang kami sampaikan," jelasnya.

Nuarta juga menceritakan, mengapa sebagai warga Rusia berani menjadi tour guide ilegal di Bali. Karena, yang menjadi tour guide tersebut adalah warga Rusia yang sudah tertangkap dan dideportasi dari Thailand, sehingga mereka memilih untuk pindah ke Indonesia khususnya di Bali.

"Warga negara Rusia ini yang melakukan kegiatan itu kan orang-orang yang terdeportasi dari Thailand. Karena di Thailand sekarang melakukan betul-betul penegakan hukum yang keras dan tegas disana," ungkapnya.

Menurut Nuarta, jika sudah di deportasi warga Rusia tersebut tidak akan kembali ke negara asalnya. Karena, akan dianggap seorang yang kriminalis.

"Maka salah satu caranya adalah pindah ke negara yang lain. Nah negara lain yang dipilih itu adalah negara Indonesia, utamanya Bali. Kenapa, karena masih ada oknum-oknum penegak hukum yang mau menerima suap, masih mau di bayar oleh karena itu marak di Bali," ujarnya.

Nuarta juga menjelaskan, untuk modus operandinya para warga Rusia tersebut berbeda dengan yang dulu. Kalau dulu, warga Rusia tersebut masuk melalui travel agent yang menggunakan warga asing. Namun, untuk saat ini modus operandinya mereka lebih mudah dengan lewat travel agent dan mereka bisa deteksi dan melakukan kegiatan mandiri.

"Jadi contoh begini, setiap malam dia nongkrong. (misalnya) di Nusa Dua ketemu sama tamu Rusia diajak minum dibayarin. Sambil dia menjual produknya," ujarnya.

"Dia menjual produk itu tidak sama dengan travel agent yang formal. Dia menjual produk semaunya mereka. Ada yang lebih mahal tergantung tournya, ada yang lebih murah sekali. Artinya, ada tiga hal implikasinya, satu dia merusak tatanan niaga paket Rusia, kedua dia tidak membayar pajak, ketiga adalah kesempatan kerja diambil oleh sebagian mereka," jelas Nuarta.

Nuarta juga menjelaskan, jika travel agent yang normal itu sesuai dengan paket tour Rusia dari Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali yang membuat produk paket tour tersebut.

"Paket Rusia, (Misalnya) ke Kintamani satu orang hampir 65 (ribu) dollar. Kalau ke Kintamani (Warga Rusia) bisa dibuka 35 atau 40 dollar. Kadangn lebih murah, karena disana tamunya tanpa lunch umpamanya dia yang menjual lunch disana dengan harga mahal begitu," ujarnya.

Perlu diketahui juga, untuk kunjungan wisatawan asal Rusia ke Bali, dari bulan Januari sampai Mei 2019 mencapai 64.113 orang.(merdeka.com)

SHARE
Previous articleImpor Berlebih, Harga Garam Petambak Anjlok
Next articleDin Syamsuddin: Wajar Umat Islam Marah ke Sukmawati, Ini Kejadian yang Kesekian Kali

COMMENTS