DIRIAU.com -- Idea – idea muncul ketika si anak muda di rundung masalah. Kicauan burung menjadi temannya opini bersiliweran di negeri antah berantah sebuah estetika ingin di rajuknya melalu tulisan penuh makna. Penanya selalu di bawa kemana – mana di tentengnya buku di tas ada lima di tangan ada tiga. Belum sempat bercermin di rumah, anak muda pergi begitu saja tanpa menghiraukan penampilan luar. Ia sadar penampilan takkan menjadi nilai lebih bagi kehidupannya.

Tak sempat di situ saja, kelompok nya selalu bercerita filosuf, filosuf mana yang tak pernah mereka sebutkan, dari yang tak memiliki agama hingga mencapai ilahiyah.

Mereka semua bertekad dan bercita – cita membangun negeri. Yang satu ingin membangun negeri dari ilmu agamanya, satu nya ingin membangun negeri dari jalur berbeda lewat dunia ekonomi, dan satunya jalur politik. Jika di usia muda banyak kawan – kawan sebaya lengah dengan dunia maya dan game online membelalakkan mata. Mereka sibuk dengan kesibukan organisasi. Stakeholder mana yang tak mengenal mereka dari kelas teri hingga kelas kakap. Bukan barang tentu mereka meninggalkan sikap idealis, hanya saja sikap idealis itu selalu di barengi dengan sikap realis. Disini terlihat mereka tidak pernah mereka memikirkan pikiran orang lain tentang mereka. Mereka lebih sibuk mengembangkan baik dari dalam dan luar kampus. 

Cerita diatas adalah sebuah fenomena baru di kehidupan mahasiswa, pengangkatan tema ini penulis ingin mengajak kawan – kawan mahasiswa untuk fenomena kekinian. Jurang disini bukanlah arti sempit namun penulis ingin memberikan interpretasi yang berbeda. Jurang disini hanya sekitaran 2 meteran kedalamanya. Masih ingat fenomena masuk got jadi Presiden. Jurang itu bukanlah sesuatu yang berbahaya dan menakutkan.

Pada dasarnya kalau tidak memasuki jurang kita tidak tahu apa yang ada didalamnya.

Anak – anak muda itu identik dengan semangat membara, api didalam tubuhnya yang setiap waktu bisa meledak – ledak. Dan terkadang bisa membakar dirinya sendiri. Dua paragraf diatas menjelaskan mengapa ada sebagaian anak muda menghiraukan penilaian orang lain. Penjelasannya sederhana realistis.

Banyak mengatakan politik hal yang menjijikkan, memuakkan, haram,dsb. Politik tidak seperti demikian, bahkan Moh. Natsir menyarankan agar yang muda ikut terjun ke dunia politik, peran pemuda seharusnya bertambah kuat di zaman milinium ini. Terlebih kaum pemuda mulai di beri peran banyak dalam endorse partai.

Salahkah kaum muda terjun politik ? banyak kaum muda salah mengartikan terlibat dan ikut. Ikut dalam politik dengan kata lain kita hanya pengikut dari politik itu sendiri. Atau ia ikur parpol hanya sebagai penikmat saja tanpa mengeluarkan idea – idea baru kepada parpol terlebih kepada negara itu sendiri.

Saya lebih suka kaum muda terlibat dari semua kebijakan politis di negeri ini. Contohnya dalam pemilihan baik perwakilan rakyat atau pun pejabat eksekutif pemerintah seharusnya nama – nama kaum muda terpampang di kotak suara. Dan juga jika akhirnya keterlibatannya tidak dapat berbuah manis maka yang harus di lakukannya yaitu perbaikan mekanisme perekrutan keanggotan partai. Itu salah satu kecilnya saja. Dan juga kaum muda harus aktif mengkampanyekan tolak money politic, oligarki partai dan nepotis. 

Jurang itu memang tidak semuanya menjurus kedalam, buktinya jurang sekitaran 2 meter mengakibatkan seseorang menjadi Presiden. Tidak salah kaum muda harus meniru contoh kecil ini, contoh kecil ini bisa mejadi efek fatamorganan dari politik itu sendiri.

Contohlah sesuatu yang baik, berpolitik lah yang santun, berpolitik lah menggunakan ilmu jangan pernah timbulkan ke permukaan politik devide et impera. Politik itu seharusnya berada di tangan – tangannya kaum muda, karena nanti kebijakan kaum muda lah yang akan menjadi tolak ukur keberhasilan negara ini.

Di tangan pemuda lah haluan negeri ini di berikan, haluan inilah yang menjadikan arah – arah kebaikan yang nantinya kaum muda itu sendiri yang menikmatinya. Kaum muda jangan di pandang sebelah mata, kaum muda harus bertahta di negeri Indonesia, realistislah !

 

Fadlil Aulia Rahman R.G

(KADER HMI KOMISARIAT FAI – UIR)

SHARE
Previous articlePergi Menyadap Karet, Oji Diserang Buaya
Next articleSPI desak Polda Riau Transfaran Dalam Penegakan Hukum Terkait Bupati Bengkalis Yang Diduga Kuat Ikut Terlibat

COMMENTS